Menu

Jokowi-JK Dapat Dukungan dari Tokoh Aktivis 66

TOKOH aktivis angkatan '66 mendeklarasikan dukungan pada capres-cawapres Joko Widodo-Jusuf Kalla pada hari ini, Jumat (4/7/2014). Selain bersih, Jokowi dianggap mampu meningkatkan kualitas sosial, politik, dan ekonomi Indonesia.

"Jokowi adalah orang yang bersih, kertas bersih. Kita memulai dengan yang bersih. Kalau memulai dengan yang kotor, makin susah melakukan sesuatu," kata salah satu eksponen '66, Sofjan Wanandi, di Cikini, Jakarta Pusat.

Ia mengaku tidak memercayai bahwa calon yang lain tidak mempunyai masalah. Sofjan juga menuturkan, Jokowi tidak banyak berjanji seperti capres lain. Jokowi telah menunjukkan kerja keras mulai sejak memimpin Solo sebagai wali kota dan saat menjabat Gubernur DKI.

Bukan itu saja, tema perubahan yang dibawa Jokowi-JK juga menjadi alasan bagi tokoh aktivis '66 mendukung capres-cawapres nomor urut dua tersebut. Kedua orang ini dianggap memiliki kemampuan dalam membuat perubahan di Indonesia.

Melalui pengalaman dan integritas mereka, kedua tokoh ini dipercaya mampu melakukan perubahan kehidupan sosial, politik, dan ekonomi lebih baik.

"Kehidupan sosial, politik, dan ekonomi kita agak tidak membahagiakan di Indonesia. Kalau kita lihat program Jokowi-JK akan membangun pasar tradisional, ini menunjukkan mereka paham betul problem pusara rakyat kecil menengah," kata mantan aktivis yang kini telah menjadi pengusaha ini.

Menurut Sofjan, saat ini pembeli kurang meminati pasar tradisional. Pembangunan kembali pasar tradisional akan meningkatkan daya tarik sehingga ekonomi pun akan naik. Deklarasi tersebut dihadiri oleh Sofjan Wanandi, Fahmi Idris, Firdaus Wadjadi, Umri Nasution, Samuel Parantean, dan belasan tokoh '66 lainnya. Saat diminta berfoto, mereka kompak menyanyikan lagu kemenangan Jokowi "Salam 2 Jari". (red/foto: media indonesia)

Read more...

Khofifah: Kemenangan Jokowi-JK sudah Dekat

JURU bicara Joko Widodo-Jusuf Kalla, Khofifah Indar Parawansa, melihat tren suara pasangan nomor urut 2 semakin meningkat. Karena itulah, ia meyakini kemenangan sudah di depan mata. Meski demikian, Khofifah tidak memasang target kemenangan tertentu.

"Tidak memasang target menang berapa persen. Yang penting menang. Tren suara Pak Joko Widodo-Pak Jusuf Kalla terus menanjak naik. Kemenangan itu sudah dekat," katanya seperti dikutip dari rilis yang diterima Metrotvnews.com, Senin (30/6/2014).

Khofifah mengatakan pihaknya meminta tim dan relawan Jokowi-JK mewaspadai adanya cara kecurangan yang bisa menodai demokrasi di Indonesia. "Cara curang itu bisa dilakukan oleh pihak penyelenggara pemilu sendiri. Makanya pengamanan suara perlu dilakukan," kata mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan era Gus Dur itu.

Khofifah yang punya jaringan kuat hingga level nasional mengakui bahwa kini sudah ada pihak yang mulai membayar suara rakyat. "Di Surabaya ada laporan sudah ada yang kasih uang muka Rp50 ribu per suara. Ada pula guru sekolah dapat kiriman surat yang isinya ada uangnya," ujarnya. (red)

Read more...

Sebut PDIP Komunis, Megawati: TV One Abaikan Etika Jurnalistik

KETUA umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyesalkan pemberitaan di stasiun televisi swasta TV One, yang menyebut partai besutannya mengusung ideologi komunis. Mega menilai, pemberitaan tersebut meresahkan masyarakat, terlebih hal tersebut terjadi di bulan Ramadan.

"Saya turut menyesalkan berita di TV One, yang meresahkan masyarakat Indonesia yang sedang menjalankan ibadah puasa," ujar Mega melalui keterangan pers yang diterima Liputan6.com, Kamis, (3/7/2014).

Menurutnya, pemberitaan TV One yang menyebut seolah-olah PDIP merupakan partai para pendukung ideologi komunis itu telah melanggar etika penyiaran dan jurnalistik. Apalagi, pemberitaan tersebut mengarah ke Jokowi sebagai capres yang menganut paham komunis.

"Pemuatan berita tersebut telah mengabaikan kaidah dan etika jurnalistik, serta ‎secara sepihak menyerang Bapak Joko Widodo, itu semestinya tidak boleh terjadi," ucapnya.

Mega pun menilai, pemberitaan tersebut merupakan bagian dari kampanye hitam yang ditujukan kepada Jokowi. Selain itu, pemberitaan tersebut dianggap menodai kesucian bulan Ramadan, di mana seluruh umat muslim di Indonesia tengah menjalankan ibadah puasa.

"Lebih-lebih ini di bulan puasa, janganlah nodai ibadah puasa ini dengan berbagai bentuk kampanye hitam," ucap Mega.

Mega pun meminta, agar pihak keamanan khususnya Polri tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum dan menindak berbagai bentuk provokasi serta fitnah yang meresahkan ketenteraman masyarakat.

"Saya juga mengajak seluruh tokoh agama, tokoh masyarakat, budayawan, dan guru yang ingin memperjuangkan pemilu jurdil (jujur dan adil) untuk benar-benar berdiri di depan memperjuangkan pemilu yang lebih demokratis, aman, dan damai," ucap Mega.

Sementara itu, Wasekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto meminta, agar TV One tidak lagi membuat pemberitaan yang kebablasan. Menurutnya, kebebasan pers yang ada saat ini jangan sampaikan dijadikan alat politik demi mendapatkan kekuasaan semata.

"Jangan gunakan kebebasan pres untuk melakukan pembenaran. Kami hormati kebebasan pers, di mana suara rakyat yang tidak tersampaikan, di situlah pers memainkan perannya," tegas Mega.


Tjahjo Kumolo: Kita Warning TV One

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo mengaku kecewa dan sangat keberatan pemberitaan TV One yang telah menuduh partainya tengah mengusung kader komunis. Ia juga tak membantah bahwa dirinya yang menginstruksikan kader PDI Perjuangan untuk mendatangi TV One. Meski begitu, ia memastikan bahwa PDI Perjuangan akan mengikuti prosedur aturan keamanan yang berlaku.

"Kita warning TV One. (Tapi) Kita harus taat aturan perlu izin dan pengawalan Polri kalau turun ke jalan protes ke TV One," kata Tjahjo saat dihubungi wartawan di Jakarta, Rabu (1/7/2014) malam.

Kendati begitu, Tjahjo menegaskan PDI Perjuangan terlebih dahulu melayangkan surat protes ke TV One. Hal ini dilakukan untuk melindungi niat baik partai dari penyusup pihak ketiga. "Kehormatan dan harga diri partai janganlah dilecehkan oleh siapa pun. Kami tersinggung tapi kami ikuti aturan," tambah Tjahjo.

Selain itu, Tjahjo menilai merasa perlu untuk memberikan pelajaran kepada TV One di mana dalam pemberitaannya telah mengandung unsur adu domba antara PDIP dan TNI AD. Pelajaran itu akan diberikan dengan mengadukannya ke Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Sementara di lain sisi pemberitaan TV One, menurut Tjahjo, merupakan bentuk penghinaan terhadap martabat partai dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

"TV One perlu dikasih pelajaran dengan cara mengadukan footage (cuplikan) resmi ke Dewan Pers dan KPI. Tema (TV One) mengadu domba PDIP dengan TNI AD. Kami jangan difitnah karena harga diri kehormatan partai," terang Tjahjo.

Tjahjo tidak menutup kemungkinan kader PDI Perjuangan akan berunjuk rasa di Kantor TV One, kawasan Pulo Gadung, Jakarta Timur. Namun dia berharap unjuk rasa ini tidak diartikan sebagai bentuk anti-kritik PDI Perjuangan terhadap kebebasan pers.

"Unjuk aspirasi bisa saja asal jangan sampai dikesankan anti-kritik menabrak kebebasan pers," ucapnya.

Sebelumnya, Kepala Humas Protokoler DPP PDI Perjuangan, Giyanto, telah mengirimkan pesan berantai yang mengatasnamakan Tjahjo Kumolo. Isi pesan itu adalah menyerukan seluruh kader partai berada dalam posisi siaga satu. Seruan Tjahjo dipicu pemberitaan TV One yang memberi kesan PDI Perjuangan mengusung kader Partai Komunis Indonesia (PKI).

"Sikap saya sebagai sekjen partai anggota kader PDI Perjuangan segera kami siaga satu," kata Tjahjo dalam keterangan pers yang dikirimkan Giyanto.

Tjahjo mengatakan pemberitaan TV One yang menyebut PDIP kawan PKI dan musuh Angkatan Darat merupakan fitnah dalam situasi krisis. Dia mengatakan saat ini PDI Perjuangan sedang menyiapkan surat izin ke Polda Metro Jaya untuk mengepung Studio TV One. "Disiapkan segera mengepung studio TV One -- surat izin ke Polda Metro kami siapkan," ujarnya.

PDI Perjuangan meminta TV One bertanggung jawab atas pemberitaan yang mereka munculkan. TV One harus bisa membuktikan siapa nama anggota PKI yang dimaksud. "Ini menyangkut harga diri kehormatan partai dan Ibu Megawati Soekarnoputri yang dilecehkan oleh berita TV One," kata Tjahjo. (red)

Read more...
Subscribe to this RSS feed
Info for bonus Review William Hill here.